Selama berjalan kaki mereka juga melakukan perenungan untuk memenuhi darma atau kewajiban.
Baca Juga: Ikuti Festival Lampion di Candi Borobudur 2024 Sebagai Puncak Perayaan Trisuci Waisak 2568 BE
Tidak pandang umur
Setiap bhikkhu bisa melakukan ritual thudong tanpa memandang umur. Yang penting sehat fisik dan rohani.
Ritual thudong cukup menguras energi karena bhikkhu akan terus berjalan kaki.
Rute untuk melakukan ritual ini tidak ada batasan jauh.
Untuk ritual thudong dari Thailand sampai Borobudur ini misalnya, ditempuh dalam waktu tiga bulan.
Selama menjalankan ritual ini bhikkhu tidak boleh membawa uang sedikit pun.
Untuk makan dan minum, para bhikkhu akan mendapat makanan atau pindapata dari umat Buddha.
Jadwal makan pun ketat. Dalam sehari hanya makan 1-2 kali saja. Pagi jam 07.00 dan siang jam 12.00.
Setelah jam 12.00 hanya boleh minum saja.
Dalam sehari minimal perjalanan antara 25-30 kilometer.
Kalau pun panas atau hujan, kepala dan tubuh hanya ditutupi seadanya. Ini benar-benar melatih kesabaran dan mental.
Artikel Terkait
Warisan Budaya yang Tak Ternilai, Candi-Candi Peninggalan Kerajaan Buddha di Indonesia
Tidak Kalah Sakral dan Misterius, Ini 4 Candi Hindu dan Buddha yang Pernah Dibangun di Luar Pulau Jawa
Jelang Perayaan Waisak 2568 BE, InJourney Siap Sambut Ribuan Umat Buddha di Candi Borobudur
Berapa Harga Tiket Masuk Candi Borobudur di Pekan Libur Panjang Waisak 2024? Simak Informasinya
Temple Stay, Wisata Unik di Korea Selatan yang Membuka Kesempatan Belajar Menjalani Kehidupan ala Pendeta dan Biarawan Buddha