Lantas, kenapa harus dibuat menjadi roti? Pembuatan roti tidak lepas pengaruh orang Eropa juga.
Baca Juga: Meskipun Sudah Agak Membaur, Perkampungan-perkampungan Betawi Ini Masih Bertahan Sampai Sekarang
Awalnya hanya jadi pajangan
Sekitar awal akhir abad 18 mulai ada bakeri atau toko roti di Batavia.
Kala itu roti hanya jadi panganan orang Belanda atau yang mampu saja.
Bila pernikahan orang Eropa selalu membawa bunga, orang Betawi mencari simbol lain yang berbeda.
Baca Juga: 5 Tempat Nasi Uduk Khas Betawi yang Legendaris di Jakarta, Awas Ketagihan
Ukuran roti buaya rata-rata sekitar 50 sentimeter. Namun, ada yang lebih besar juga.
Pada zaman dulu tekstur roti buaya cenderung lebih keras dari roti pada umumnya.
Ini karena kala itu, setelah resepsi pernikahan, roti buaya tidak dimakan, tetapi disimpan.
Baca Juga: 5 Minuman Khas Betawi, Mulai Dari yang Segar Hingga yang Menghangatkan
Sehingga butuh roti yang teksturnya keras agar tidak mudah rusak dan basi.
Di abad 20 tradisi ini diprotes. Roti yang sudah dibuat dianggap mubasir kalau tidak dimakan.
Akhirnya, terjadi perubahan tradisi. Setelah ijab kabul roti dipotong dan dibagi-bagikan ke semua orang.
Baca Juga: Makanan Khas Betawi, Makin Mudah Dicari Saat HUT Jakarta
Saat ini roti buaya teksturnya sudah lebih lembut dari model dulu. Jenisnya pun sekarang beragam.
Artikel Terkait
Belum Banyak yang Tahu, Inilah Asal Usul Nama Kawasan di Jakarta
Jalan-Jalan Ke Setu Babakan di Jakarta, Desa Wisata Dengan Budaya Betawi
Asal Mula Penamaan ‘Kampung-kampung’ di Jakarta, Bukti Kota Ini Jadi Melting Pot Sejak Ratusan Tahun Lalu
Sejarah Pasar-Pasar di Jakarta yang Berumur Lebih dari 200 Tahun, Pasar Tanah Abang Dulu Bernama Pasar Sabtu
4 Nama Jalan Terkemuka Di Masa Jakarta Masih Bernama Batavia
Warisan Kesenian Khas Betawi yang Mulai Sulit Ditemui Kecuali di Perayaan Ulang Tahun Jakarta