Diawali Kebiasaan Masyarakat Lokal, Jadilah Nama Stasiun Besar di Jakarta Ini Digunakan Sampai Sekarang

Photo Author
Lucy SL, Kabar BUMN
- Minggu, 10 November 2024 | 07:00 WIB
Stasiun Gambir telah mengalami beberapa kali renovasi dan modernisasi. (X/@rizkidwika)
Stasiun Gambir telah mengalami beberapa kali renovasi dan modernisasi. (X/@rizkidwika)

2. Tumbuh pohon Gambir
Kali pertama didirikan, stasiun diberi nama Weltevredren, lalu diubah jadi Batavia Koningsplein setelah renovasi tahun 1937.

Karena sulit menyebutkan Stasiun Koningsplein, masyarakat lokal lebih suka menyebutnya dengan Stasiun Gambir.

Ini karena di depan stasiun tumbuh banyak pohon gambir.

Setelah kemerdekaan nama Stasiun Gambir menjadi nama resmi yang digunakan.

Baca Juga: Perjalanan Panjang Jakarta Fair, Berawal dari Pasar Malam di Gambir Sampai Ke JIExpo

3. Mengalami modernisasi gedung
Jika bangunan Stasiun Kota dan Stasiun Jatinegara masih asli, Stasiun Gambir sudah lebih modern.

Sebenarnya saat dibangun arsitektur Stasiun Gambir sangat sederhana.

Atapnya dari bantalan besi cor dan masih berstatus halte kecil.

Baca Juga: 4 Restoran Belanda di Jakarta, Mengenang Makanan Oma-Opa Dulu di Masa Hindia Belanda

Tahun 1928, Stasiun Gambir mengalami renovasi besar-besaran. Bangunannya didesain bergaya Art Deco.

Atapnya jadi lebih cantik dan bangunannya diperbesar.

Sayangnya tahun 1980-an pemerintah memutuskan untuk melakukan modernisasi stasiun.

Baca Juga: 4 Tempat Makan Nasi Kapau di Jakarta, Jangan Mencari Menu ala Rumah Makan Padang di Sini

Pembaruan terakhir di Stasiun Gambir, kehadiran taman di dalam ruang. (PT KAI Daop 1 Jakarta via hallo.id)

Semua bangunan gedung lama dirombak habis dan menjadi bentuknya yang sekarang.

Stasiun dibuat bertingkat dengan desain modern dan minimal.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Lucy SL

Sumber: KAI Heritage

Tags

Artikel Terkait

Terkini