2. Tumbuh pohon Gambir
Kali pertama didirikan, stasiun diberi nama Weltevredren, lalu diubah jadi Batavia Koningsplein setelah renovasi tahun 1937.
Karena sulit menyebutkan Stasiun Koningsplein, masyarakat lokal lebih suka menyebutnya dengan Stasiun Gambir.
Ini karena di depan stasiun tumbuh banyak pohon gambir.
Setelah kemerdekaan nama Stasiun Gambir menjadi nama resmi yang digunakan.
Baca Juga: Perjalanan Panjang Jakarta Fair, Berawal dari Pasar Malam di Gambir Sampai Ke JIExpo
3. Mengalami modernisasi gedung
Jika bangunan Stasiun Kota dan Stasiun Jatinegara masih asli, Stasiun Gambir sudah lebih modern.
Sebenarnya saat dibangun arsitektur Stasiun Gambir sangat sederhana.
Atapnya dari bantalan besi cor dan masih berstatus halte kecil.
Baca Juga: 4 Restoran Belanda di Jakarta, Mengenang Makanan Oma-Opa Dulu di Masa Hindia Belanda
Tahun 1928, Stasiun Gambir mengalami renovasi besar-besaran. Bangunannya didesain bergaya Art Deco.
Atapnya jadi lebih cantik dan bangunannya diperbesar.
Sayangnya tahun 1980-an pemerintah memutuskan untuk melakukan modernisasi stasiun.
Baca Juga: 4 Tempat Makan Nasi Kapau di Jakarta, Jangan Mencari Menu ala Rumah Makan Padang di Sini
Semua bangunan gedung lama dirombak habis dan menjadi bentuknya yang sekarang.
Stasiun dibuat bertingkat dengan desain modern dan minimal.
Artikel Terkait
Arti Kode Angka di Papan Nama Stasiun Kereta Api
5 Stasiun Kereta Api yang Cantik dan Instagramable, Berumur Lebih dari 100 Tahun
Yuk, Nantikan Kesempatan Jalan-Jalan Naik Kereta Api Di Sumatra
5 Stasiun Kereta Paling Cantik di Dunia, Keindahan Interiornya Melebihi Istana
4 Stasiun Kereta Api di Solo, Infrastruktur Tua yang Umurnya Lebih dari 100 Tahun Tetapi Masih Cantik
Mengenal Wajah, 20 Stasiun Kereta Api Kini Manfaatkan Fasilitas Face Recognition