Chado, Tatkala Minum Teh Menjadi Ritual Filosofis nan Elegan di Kelompok Bangsawan Jepang

Photo Author
Lucy SL, Kabar BUMN
- Jumat, 6 Desember 2024 | 18:30 WIB
Upacara chado hanya bisa dilakukan pembuat teh khusus yang telah belajar bertahun-tahun. (noticias.unsam.edu.ar)
Upacara chado hanya bisa dilakukan pembuat teh khusus yang telah belajar bertahun-tahun. (noticias.unsam.edu.ar)

Tradisi chado pertama kali dibawa pendeta Buddha, Eisai dari Tiongkok pada abad ke 12. (myjcos.com)

Belajar bertahun-tahun
Chado tidak bisa dibawakan sembarang orang. Ia harus melalui serangkaian pelatihan.

Dari meracik, membersihkan penyeduh, sampai menuangkan teh, harus dilakukan detail dan elegan.

Ada empat filosofi khusus dibalik setiap gerakannya.

Baca Juga: Penggemar Ninja Merapat, Ini Rekomendasi Tempat Wisata di Jepang yang Bagi Sosok Misterius yang Penuh Keahlian Itu

Yakni, wa (harmoni), kei (rasa hormat), sei (kesucian) dan jaku (ketenangan).

Upacara minum teh dilengkapi dengan sejumlah alat pembuat teh khusus.

Yaitu chakin (lap pembersih), chashaku (sendok teh), chasen (pengaduk teh), chawan (mangkuk teh) dan ketel.

Baca Juga: 5 Festival Musim Gugur di Jepang yang Paling Terkenal, Salah Satunya Umurnya Lebih dari 400 Tahun

Beberapa rumah teh yang sudah lama memiliki alat chado yang umurnya sudah puluhan tahun.

Teh yang digunakan pun bukan sembarang teh hijau, tapi matcha khusus.

Misalnya saja matcha dari Uji, Kyoto.

Baca Juga: 5 Kuliner Khas Kyoto, Jepang, Serba Mewah dan Khas Bangsawan di Bekas Ibu Kota Tersebut

Teh yang biasa digunakan saat chado adalah matcha. (Pexels/Cottonbro Studio)

Dilakukan di ruangan khusus
Upacara chado biasanya dilakukan di ruang minum teh khusus atau di taman.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Lucy SL

Sumber: mizubatea.com

Tags

Artikel Terkait

Terkini