Asal Usul Kurban di Hari Raya Idul Adha: Keteladanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail

Photo Author
Amalia R, Kabar BUMN
- Rabu, 4 Juni 2025 | 21:00 WIB
Ilustrasi - Tradisi kurban di Idul Adha berawal dari kisah Nabi Ibrahim dan Ismail yang menunjukkan makna ketaatan dan pengorbanan sejati kepada Allah. (timah.com)
Ilustrasi - Tradisi kurban di Idul Adha berawal dari kisah Nabi Ibrahim dan Ismail yang menunjukkan makna ketaatan dan pengorbanan sejati kepada Allah. (timah.com)

Kabar BUMN - Hari Raya Idul Adha menjadi momen penuh makna bagi umat Islam di seluruh dunia.

Setiap tahunnya, ibadah kurban dilakukan sebagai bentuk ketaatan dan kepatuhan kepada Allah SWT.

Di balik tradisi ini, terdapat kisah luar biasa dari dua sosok mulia, yaitu Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail, yang menjadi sumber inspirasi bagi umat Muslim hingga saat ini.

Baca Juga: Cek Kendaraan Lengkap Sebelum Long Weekend, Supaya Liburan Makin Asyik

Peristiwa ini bermula setelah Nabi Ibrahim berhasil lolos dari pembakaran yang diperintahkan oleh Raja Namrud.

Dengan pertolongan Allah, Nabi Ibrahim diselamatkan dari api yang menyala-nyala. Setelah kejadian itu, beliau memilih untuk meninggalkan kerajaan Namrud dan hijrah ke tempat yang lebih baik.

Dalam perjalanannya, ia menikahi Siti Hajar dan dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Ismail.

Baca Juga: Bisa Dapat Mobil, Motor, hingga iPhone 15 di Undian Telkomsel Spesial HUT ke-30!

Kehadiran Ismail tentu menjadi anugerah besar dalam hidup Nabi Ibrahim. Namun, ujian berat datang ketika Nabi Ibrahim menerima mimpi berulang kali selama tiga malam berturut-turut.

Dalam mimpinya, ia diperintahkan untuk menyembelih putranya sendiri. Mimpi itu diyakini sebagai wahyu dari Allah, bukan sekadar bunga tidur.

Nabi Ibrahim pun diliputi kegelisahan, namun terus memohon petunjuk dalam doanya.

Baca Juga: Ide Masakan Daging Kurban untuk Keluarga, Enak dan Mudah Dibuat

Setelah yakin bahwa perintah tersebut berasal dari Allah, Nabi Ibrahim menyampaikan hal itu kepada Ismail. Alih-alih menolak, Ismail dengan hati yang lapang menerima keputusan tersebut.

Ia menunjukkan keteguhan iman dan ketundukan yang luar biasa. Bersama sang ayah, Ismail pun menuju ke sebuah tempat bernama Mina untuk menjalankan perintah ilahi itu.

Di sana, keduanya saling berpamitan dengan penuh haru. Nabi Ibrahim pun mengayunkan pisau tajam ke leher Ismail.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Amalia R

Tags

Artikel Terkait

Terkini