Sejarah dan Fakta Nasi Ulam Khas Betawi yang Masuk Warisan Budaya Tak Benda

Photo Author
Lucy SL, Kabar BUMN
- Senin, 16 Juni 2025 | 17:00 WIB
Nasi ulam kering. Sejak tahun 2018, nasi ulam sudah ditetapkan pemerintah Jakarta sebagai warisan tak benda yang patut dilindungi. (senibudayabetawi.com)
Nasi ulam kering. Sejak tahun 2018, nasi ulam sudah ditetapkan pemerintah Jakarta sebagai warisan tak benda yang patut dilindungi. (senibudayabetawi.com)

Kabar BUMN - Selain nasi uduk, masyarakat Jakarta juga mengenal nasi ulam, yang biasa disajikan untuk sarapan.

Belum banyak yang tahu, nasi ulam ini hasil alkuturasi kuliner dan budaya Tionghoa, India, dan Belanda.

Sejak tahun 2018, nasi ulam sudah ditetapkan pemerintah Jakarta sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang patut dilindungi.

Baca Juga: Faktor Keterbatasan Bahan Baku, Kuliner Betawi Ini Sekarang Semakin Langka

Nasi campur orang Betawi
Dipercaya nasi ulam mendapat pengaruh kuat dari budaya Tionghoa peranakan dan Melayu.

Ini terlihat dari konsep nasi dengan aneka lauk yang mirip dengan nasi lemak khas Melayu.

Tambahan serundeng dan kacang pada nasi, dipercaya mendapat pengaruh dari India.

Baca Juga: 4 Camilan Betawi yang Masih Mudah Ditemukan di Penjual Kaki Lima

Masyarakat Betawi lalu menambahkan daun kemangi dan ebi.

Selain itu, untuk memasak nasi, masyarakat Betawi juga menggunakan daun salam, lengkuas, dan serai.

Sementara tambahan semur dan perkedel menunjukkan pengaruh kuliner Belanda di nasi ulam.

Baca Juga: Penjual Asinan Betawi di Jakarta yang Populer dan Selalu Diantri Pembeli, Rasanya Tetap Sama Sejak Dulu

Nasi ulam basah menambahkan nasi ulam kering dengan kuah semur. (Wikipedia/Gunawan Kartapranata )

Model basah dan kering
Nasi ulam sendiri ada dua jenis, yaitu basah dan kering.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Lucy SL

Tags

Artikel Terkait

Terkini