Sejarah dan Fakta Menarik Macha, dari Mulanya Minuman Biksu, Bagian Ritual, Hingga bisa Dinikmati Orang Umum

Photo Author
Lucy SL, Kabar BUMN
- Senin, 23 Juni 2025 | 15:30 WIB
Produsen macha Uji akan mencantumkan asal teh di kemasannya untuk menunjukkan kalau itu kualitas terbaik di Jepang. (hugthetea.com)
Produsen macha Uji akan mencantumkan asal teh di kemasannya untuk menunjukkan kalau itu kualitas terbaik di Jepang. (hugthetea.com)

Kabar BUMN - Setelah tren beberapa tahun lalu, macha kembali naik daun beberapa minggu ke belakang.

Macha menjadi bahan utama untuk beberapa jenis kuliner, termasuk yang baru muncul belakangan.

Kini siapapun bisa mengonsumsi macha, tergantung harga dan tingkatannya.

Dulu macha hanya diperuntukkan bagi bangsawan dan biksu. Diolahnya pun hanya untuk minuman.

Baca Juga: 4 Toko Membeli Oleh-oleh Murah di Jepang, Punya Banyak Cabang di Setiap Kota

Berasal dari Tiongkok
Diperkirakan macha ada sejak zaman Dinasti Tang (618-907) untuk dikonsumsi terbatas.

Di masa Dinasti Song (960-1279), macha mulai digunakan sebagai bagian tradisi atau ritual.

Alih-alih hijau, awalnya macha cenderung berwarna kecokelatan.

Tahun 1191, biksu Buddha yang belajar di Tiongkok membawa pulang macha ke Jepang untuk minuman di biara.

Baca Juga: Rekomendasi Snack Halal dari Jepang untuk Camilan Saat Liburan atau Oleh-oleh

Dari situ pula, tahun 1271, Jepang mulai mengembangkan teknologi membuat macha dengan warna hijau.

Perkebunan teh di sekitar Kyoto menanam jenis daun teh khusus yang berkualitas.

Kebiasaan minum macha biksu Buddha kemudian diadaptasi bangsawan Jepang.

Mereka menjadikannya ritual upacara minum teh.

Baca Juga: 4 Jenis Sushi yang Awalnya Hanya Disajikan di Jepang dan Perlahan-lahan Mendunia

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Lucy SL

Sumber: fullleafteacompany.com, t2tea.com

Tags

Artikel Terkait

Terkini