Jelajah Kotabaru, Yogyakarta, Kawasan yang Dulu Ditinggali Kelompok Kulit Putih

Photo Author
Lucy SL, Kabar BUMN
- Rabu, 25 Juni 2025 | 15:30 WIB
Kawasan Kotabaru dulunya bernama Nieuwe Wijk. Dibuka sekitar tahun 1920-an.  (Wikipedia/Collectie Wereldmuseum (v/h Tropenmuseum), part of the National Museum of World Cultures)
Kawasan Kotabaru dulunya bernama Nieuwe Wijk. Dibuka sekitar tahun 1920-an. (Wikipedia/Collectie Wereldmuseum (v/h Tropenmuseum), part of the National Museum of World Cultures)

Gereja Katolik Santo Antonius atau lebih dikenal dengan nama Gereja Katolik Kotabaru diresmikan pada 26 September 1926 oleh Mgr. A. van Velsen, SJ. (kas.or.id)

Lahan terbuka tersedia khusus, bangunan rumah dan area publik dipisah.

Bagian barat khusus tempat tinggal dan bagian timur untuk bangunan yang bersifat publik.

Semua fasilitas publik pun tersedia dalam satu area.

Kompleks perumahan ini bentuknya radial dengan lapangan di tengah dan penghubung menuju jalan utama.

Baca Juga: Ragam Jenis Sate dari Yogyakarta, Unik dan Sedikit Ekstrem yang Ada di Yogyakarta

Saksi hunian modern
Jalan-jalan di kawasan ini mata akan dipuaskan dengan bangunan-bangunan tua yang estetik.

Beberapa masih bertahan menjadi rumah tinggal tapi sebagian sudah berubah fungsi.

Selain bangunan rumah, banyak bangunan penunjang, seperti gereja, sekolah, sampai gedung pemerintahan.

Baca Juga: 5 Lokasi Menakjubkan untuk Menyaksikan Pesona Matahari Terbit di Yogyakarta

Sebagian besar masih mempertahankan bentuk aslinya.

Salah satu bangunan yang menonjol adalah Gereja Santo Antonius Kotabaru.

Gereja ini didirikan tahun 1926 dengan ciri khas pada menara tinggi dan plafon berbentuk sungkup.

Saat ini gereja masih berfungsi sebagai tempat ibadah.

Baca Juga: Mandiri Sahabat Desa Hadir untuk 200 Keluarga Rentan Stunting di Yogyakarta

Berfoto dengan latar belakang bangunan tua di Kotabaru, Yogyakarta, menghasilkan gambar yang aestetik. (Instagram/@aiyu_reisda via kanaljogja.id)

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Lucy SL

Sumber: kebudayaan.jogjakota.go.id

Tags

Artikel Terkait

Terkini