Kabar BUMN - Pecinta songket perlu berkunjung ke Desa Sukarara di Lombok, Nusa Tenggara Barat.
Jaraknya 25 kilometer dari pusat kota Mataram atau sekitar 30 menit dengan kendaraan bermotor.
Desa Sukarara diperkirakan sudah terbentuk sejak tahun 1775.
Baca Juga: Rencana Ganti Karier? Beberapa Langkah Ini Bisa Membantu Memulai dari Awal
Desa didirikan dua bangsawan Sasak, Raden Cempake dan Raden Anugrah.
Konon nama Sukarara diambil dari kata suka yang artinya senang dan rara yang artinya sederhana.
Masyarakatnya, yang merupakan suku Sasak, selalu senang meskipun hidup sederhana.
Baca Juga: Festival Musik Internasional LaLaLa Festival 2026 di Jakarta, Tiket Dijual via Livin’ by Mandiri
Kemampuan menenun penduduk sudah muncul sejak berabad-abad.
Dulunya penduduk desa ini menggunakan pakaian dari bahan kayu kulit.
Karena terasa gatal dan tidak nyaman, mulailah mencoba menggunakan kain tenun dari kapas.
Kemampuan inilah yang diwariskan turun menurun hingga sekarang.
Baca Juga: Bedug Tertua di Indonesia, Umurnya Lebih dari 200 Tahun
Alat tradisional
Kain songket yang dihasilkan Desa Sukarara masih menggunakan teknik dan alat tenun tradisional.
Nyaris semua perempuan di desa ini bisa menenun.
Artikel Terkait
Pecinta Kain Tradisional, Ini Desa-desa Penghasil Kain Tenun Bernilai Budaya Tinggi di Indonesia
Kain Tradisional Khas Lampung, Kain Tapis dengan Corak Flora dan Fauna, Sudah Ada Sejak Abad Ke - 12
5 Kain Tradisional Indonesia yang Sudah Mendunia Selain Batik, Mulai Banyak Dikoleksi Orang Asing Juga
Ragam Kain Tenun dari 4 Daerah dan Suku di Flores, Masing-masing dengan Keunikan dan Karakternya
Bersama Kisah Tanah Jawa, Kembali Menyusuri Prambanan saat Malam Hari dengan Balutan Wastra Jawa