Kampung Wisata di Surabaya yang Menghadirkan Suasana Jadul dan Tradisional di Tengah Kota

Photo Author
Lucy SL, Kabar BUMN
- Jumat, 13 Maret 2026 | 13:00 WIB
Langgar Dukur Kayu di Kampung Lawang Seketeng, Surabaya, langgar tua tempat Presiden Soekarno semasa kecil belajar mengaji. (tourism.surabaya.go.id)
Langgar Dukur Kayu di Kampung Lawang Seketeng, Surabaya, langgar tua tempat Presiden Soekarno semasa kecil belajar mengaji. (tourism.surabaya.go.id)

Kabar BUMN - Di Surabaya, ada sejumlah perkampungan penduduk yang diubah menjadi kampung wisata.

Meskipun begitu, keaslian dan nilai sejarah kampung di kampung wisata di Surabaya ini masih dipertahankan.

Masing-masing kampung hadirkan nuansa yang berbeda-beda.

Baca Juga: 5 Biji Kopi Indonesia yang Diminati Pasar Internasional, Kunci Keunggulannya di Rasanya yang Khas

Kampung Lawang Seketeng
Kampung yang berlokasi di jalan Lawang Seketeng ini salah satu perkampungan tertua di Surabaya.

Diperkirakan Kampung Lawang Seketeng sudah berdiri sejak zaman Majapahit Kuno.

Ini terbukti dari peninggalan sejarah berupa Sumur Jobong yang dibuat sekitar abad 14.

Baca Juga: Harga Tiket Terbaru Taman Sari Jogja 2026, Liburan Sejarah yang Tetap Ramah di Kantong

Uniknya, di kampung ini juga berdiri Langgar Dukur Kayu, langgar tua tempat Presiden Soekarno belajar mengaji.

Juga makam Syekh Zen Zaini Assegaf, Mbah Pitono, dan Mbah Dino, tiga tokoh agama penting di Surabaya.

Kampung Lawang Seketeng berlokasi di jalan Lawang Seketeng Gg 1, Peneleh, Kecamatan Genteng, Surabaya.

Baca Juga: Tips Aman Mengemudi Kendaraan di Malam Hari Saat Mudik Lebaran

Kampung Ceria dan Batik Tin Gundih
Kampung ini menawarkan wisata batik karena sebagian besar warganya perajin dan produsen batik.

Konsep kampung batik ini pertama kali diinisiasi tahun 2009 oleh salah satu ketua RW.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Lucy SL

Tags

Artikel Terkait

Terkini