Filosofi Ketupat, Tradisi Lebaran yang Penuh Makna dan Simbol Kebersamaan

Photo Author
Amalia R, Kabar BUMN
- Minggu, 29 Maret 2026 | 16:45 WIB
Filosofi ketupat saat Lebaran dan alasan mengapa makanan ini identik dengan Idul Fitri, lengkap dengan makna simbol kebersamaan dan tradisi turun-temurun.
Filosofi ketupat saat Lebaran dan alasan mengapa makanan ini identik dengan Idul Fitri, lengkap dengan makna simbol kebersamaan dan tradisi turun-temurun.

Kabar BUMN - Ketupat hampir selalu hadir di meja makan saat Lebaran tiba. Makanan berbahan dasar beras yang dibungkus anyaman daun kelapa ini bukan sekadar pelengkap hidangan, tetapi juga sarat makna.

Tradisi menyajikan ketupat saat Idul Fitri sudah berlangsung turun-temurun dan memiliki filosofi yang mendalam dalam budaya masyarakat Indonesia.

Selain rasanya yang cocok dipadukan dengan berbagai lauk, ketupat juga menjadi simbol penting dalam perayaan hari kemenangan. Tidak heran jika setiap Lebaran, banyak keluarga menyiapkan ketupat sebagai menu utama.

Baca Juga: Pesona Air Terjun Benang Kelambu di Lombok Tengah, Tirai Air Megah di Kaki Gunung Rinjani

Asal-usul Tradisi Ketupat

Tradisi ketupat sering dikaitkan dengan dakwah Sunan Kalijaga yang memperkenalkan simbol-simbol budaya untuk mendekatkan ajaran Islam dengan masyarakat Jawa.

Ketupat kemudian menjadi bagian dari perayaan Lebaran sebagai lambang nilai spiritual dan sosial.

Dalam tradisi tersebut, ketupat tidak hanya dianggap sebagai makanan, tetapi juga media penyampaian pesan moral. Filosofinya berkaitan erat dengan makna saling memaafkan setelah menjalani ibadah puasa Ramadan.

Baca Juga: Resparking Diperkuat Selama Angleb 2026, Parkir Barat Stasiun Purwokerto Diperluas

Makna Kata “Ketupat”

Secara filosofis, kata ketupat berasal dari istilah “ngaku lepat” yang berarti mengakui kesalahan.

Makna ini sejalan dengan tradisi saling memaafkan saat Lebaran. Ketika ketupat disajikan, itu menjadi simbol bahwa seseorang telah mengakui kesalahan dan siap memperbaiki diri. 

Makna ini juga memperkuat nilai kebersamaan dalam keluarga dan masyarakat. Ketupat menjadi pengingat bahwa Lebaran bukan hanya soal makanan, tetapi juga tentang mempererat hubungan.

Baca Juga: 5 Tempat Wisata di Kulon Progo, Yogyakarta yang Cocok untuk Healing

Filosofi Anyaman Ketupat

Anyaman daun kelapa pada ketupat memiliki arti tersendiri. Pola yang rumit melambangkan berbagai kesalahan manusia selama hidup.

Sementara isi beras putih di dalamnya menggambarkan hati yang bersih setelah memohon maaf dan saling memaafkan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Amalia R

Tags

Artikel Terkait

Terkini