Mengapa Orang Indonesia Menamakan Hari Raya Idul Adha dengan Lebaran Haji dan Idul Kurban?

Photo Author
Lucy SL, Kabar BUMN
- Selasa, 13 Juni 2023 | 15:30 WIB
Hari Raya Idul Adha bagi masyarakat Indonesia juga dikenal dengan istilah Lebaran Haji dan Idul Kurban. (Haydan As-soendawy/Pexels)
Hari Raya Idul Adha bagi masyarakat Indonesia juga dikenal dengan istilah Lebaran Haji dan Idul Kurban. (Haydan As-soendawy/Pexels)

Kabar BUMN - Dalam belasan hari saja, umat Muslim akan merayakan hari raya Idul Adha, yang jatuh di setiap tanggal 10 Dzulhijjah.

Pemerintah Indonesia memperkirakan hari raya ini akan jatuh pada 29 Juni 2023, sementara PP Muhammadiyah telah menetapkan tanggal 28 Juni 2023 sebagai hari perayaan Idul Adha.

Dilansir dari laman Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buleleng, di hari raya Idul Adha ada dua peristiwa atau selebrasi rutinan (annual celebration) umat Muslim yang menjadi khas dan unik. Yaitu, penyelenggaraan ibadah haji dan ibadah kurban.

Baca Juga: Resmi, Garuda Indonesia Masuk Daftar Pemeringkatan Forbes Global 2000

Bagi umat Islam yang berkesempatan menunaikan ibadah haji, kurban termasuk bagian dari prosesi haji itu sendiri.

Namun, bagi umat Islam di Tanah Air dan negara lain, tanggal 10 Dzulhijjah diperingati dengan melaksanakan shalat Ied berjamaah yang dilanjutkan dengan penyembelihan hewan kurban.

Singkat dan sederhananya, karena pelaksanaan kedua ibadah tersebutlah sebagian masyarakat Indonesia banyak yang mengistilahkan hari raya Idul Adha dengan Lebaran Haji ataupun Idul Kurban.

Baca Juga: Garuda Indonesia Mulai Implementasikan Penyesuaian Penerapan Prokes Terbaru di Masa Transisi Endemi Covid-19

Penyebutan Lebaran Haji, karena momentum Idul Adha bersamaan dengan penyelenggaran ibadah haji.

Sementara penyebutan Idul Kurban lantaran hari raya Idul Adha identik dengan penyembelihan hewan kurban.

Baca Juga: Bandara AP II Terapkan Ketentuan di Dalam Surat Edaran Kemenhub Nomor 16/2023

Ikhlas Dalam Berkurban
Pelaksanaan kurban saat lebaran haji bukanlah semata menyembelih hewan kurban atau mengorbankan harta saja, tetapi seperti KabarBUMN.com lansir dari laman Nahdlatul Ulama, ibadah ini berkaitan dengan jiwa raga.

Yakni, agar umat Muslim membiasakan diri untuk ikhlas dalam ucapan dan amal perbuatan yang dilakukan.

Ibadah ini juga hendaknya dijadikan semangat berkorban membuang sifat-sifat jelek dalam diri manusia, yaitu kemarahan, kedengkian, fanatisme, egoisme, untuk menjadi manusia yang bersih dan mencapai kehidupan yang lebih baik.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Lucy SL

Sumber: nu.or.id, bali.kemenag.go.id

Tags

Artikel Terkait

Terkini