ragam

Wisata Sejarah di Kota Tertua di Indonesia, Salatiga, Banyak Bangunan Warisan Kolonial yang Estetik

Jumat, 6 September 2024 | 11:30 WIB
Gereja GPIB Tamansari merupakan gereja tertua di Salatiga. Dibangun tahun 1823. (wikipedia.org/Fandy Aprianto Rohman)

2. Gedung Papak
Gedung Papak di jalan Sujowati ini dulunya dipersiapkan untuk tempat tinggal Ratu Juliana bila datang ke Salatiga.

Dibangun tahun 1850, arsitektur gedung ini berbeda dengan arsitektur Belanda lainnya.

Dinamakan Gedung Papak karena bentuk bangunannya yang rata atau papak dalam bahasa Jawa.

Baca Juga: Wisata Sejarah di Purwokerto, Banyak Gedung Sisa Kolonial Belanda yang Indah dan Terawat Apik

Karena dulu Ratu Juliana tidak jadi datang, bagunan ini difungsikan untuk rumah tinggal.

Rumah dimiliki Baron Van Hakeren De Sloot dan pernah juga jadi Kantor Divisi RM Jatikusumo.

Saat ini Gedung Papak digunakan sebagai kantor Wali Kota Salatiga.

Baca Juga: Senang-senang di Taman Kincir Ala Belanda, Tempat Wisata Paling Instagramable Ini Ada di Boyolali Lho

3. Indische Kerk
Gereja yang dibangun tahun 1823 ini merupakan gereja tertua di Salatiga.

Dulunya bernama Indische Kerk, lalu jadi Gereja Tamansari dan sekarang menjadi GPIB Tamansari.

Bangunan ini bergaya ghotik dengan bentuk jendela bersudut runcing.

Ada menara kecil tempat dipasangnya bel buatan tahun 1828.

Baca Juga: Jejak-jejak Kemewahan Bangunan Eropa di Loji Wetan, Bekas Kawasan Kelompok Elit Belanda di Solo

Kolam Renang Kalitaman, Salatiga. (tripjalanjalan.com)

4. Kolam Renang Kalitaman
Ini salah satu kolam renang tertua di Salatiga. Dulunya kolam renang ini tempat pemandian raja.

Di masa kolonial Belanda, Kolam Renang Kalitaman hanya diperuntukan bagi warga kulit putih saja.

Tahun 1948, kolam renang ini menjadi tempat pertandingan PON I dan sekarang terbuka untuk umum.

Halaman:

Tags

Terkini