ragam

Kuliner Ekstrem Indonesia yang Berbahan Baku Ulat, Menakutkan Tetapi Diyakini Tinggi Protein

Senin, 13 Januari 2025 | 08:30 WIB
Ulat trembesi diolah jadi kuliner ekstrem ala Gunungkidul. (desatepus.gunungkidulkab.go.id)

Ulat ini banyak muncul di saat usai panen sagu.

Setelah sagu ditebang, tiga bulan kemudian muncul larva dari ulat sagu. Inilah yang kemudian diolah.

Baca Juga: Tidak Hanya Gulungan Ombak, Kepulauan Mentawai Punya Kekayaan Alam Lain yang Sudah Menjadi Destinasi Wisata

Masyarakat Mentawai paling sering mengolahnya menjadi sate.

Ulat sagu dibumbui sedikit garam dan dibakar. Rasanya sangat gurih.

Selain itu, batra juga bisa dimasak di dalam bambu dan dibakar.

Ulat diiris dulu bagian perutnya, lalu diberi air kelapa muda. Batra yang matang dinikmati dengan sagu.

Baca Juga: Berencana Liburan ke Kepulauan Mentawai? Jangan Lewatkan 5 Destinasi Wisata yang Wajib Dikunjungi Ini

3. Ulat sagu
Masyarakat Papua sudah terkenal sering mengkonsumsi ulat sagu yang banyak tumbuh di daerahnya.

Dipercaya kelezatan ulat sagu muncul dari telur yang menetas setelah batang pohon sagu membusuk.

Seperti juga di Mentawai, ulat sagu paling sering diolah menjadi sate.

Masyarakat setempat menyebutnya sebagai manggia.

Baca Juga: Destinasi Wisata Alam dan Budaya di Papua

Toek dihasilkan dari hasil rendaman kayu sungai selama tiga bulan. (libur.co via harianhaluan.com)

4. Toek
Ini kuliner ekstrem lainnya dari Mentawai.

Halaman:

Tags

Terkini