Baca Juga: Hindari Suasana Canggung, Ini Daftar Pertanyaan Sensitif yang Sebaiknya Tak Dilontarkan Saat Lebaran
Dibawa pedagang Gujarat
Tradisi takbiran dibawa ke Nusantara oleh pedagang Gujarat di abad ke 13, yang datang lewat pelabuhan Samudra Pasai.
Tradisi ini kemudian diikuti Kesultanan Demak.
Dalam Babad Demak tercatat Kesultanan Demak melakukan ritual takbir sejak tahun 1475.
Adanya Wali Songo yang berdakwah di Pulau Jawa, membuat takbiran meluas ke seluruh pulau.
Baca Juga: Libur Lebaran 2026: Annual Pass THR TMII, Masuk Berkali-kali Cuma 1 Tiket!
Awalnya takbihan hanya dilakukan dalam lingkungan sekitar masjid dan belum berkeliling.
Di masa kolonial Belanda, tradisi takbiran juga dibatasi. Tidak boleh lebih dari 50 orang.
Namun masyarakat tidak kehabisan akal.
Mereka melakukan takbiran dari rumah ke rumah secara bergiliran.
Baca Juga: 7 Hidangan Lebaran yang Selalu Hadir di Meja Makan
Takbir keliling kampung
Tradisi parade keliling desa dimulai tahun 1950-an.
Pada masa itu orang takbiran membawa alat musik dan obor bambu.
Suasana takbir bertambah riuh rendah setelah adanya sound system tahun 1970-an.
Baca Juga: Mudik Lebih dari 15 Jam? Ini Tips Ampuh Agar Kamu Tidak Jenuh di Perjalanan