2. Selat solo
Hidangan khas Keraton Solo ini hasil adaptasi dari masakan Belanda.
Selat diambil dari kata slachtje artinya salad. Arti lainnya, daging yang dihidangkan dalam potongan kecil.
Hidangan ini kreasi koki keraton ketika Sultan Solo bertemu pemerintah Hindia Belanda.
Koki membuat hidangan yang bisa dinikmati bersama dengan mengolah menu biefstuk (daging steak) dengan cara Solo.
Baca Juga: Selat Solo, Menu Wajib Kulineran yang Harus Dicicipi saat Jalan-jalan di Kota Solo
Bila biefstuk ukurannya besar dan dimasak setengah matang, selat solo dagingnya matang.
Rasanya cenderung manis karena menggunakan kecap manis dengan aroma rempah yang tajam.
Daging didampingi aneka sayur mirip dengan selada huzlad Belanda.
Yaitu kentang, buncis, wortel, ketimun, daun selada, diberi tambahan saus kecap dan mayones.
Baca Juga: 5 Tempat Makan di Surakarta yang Recomended untuk Menikmati Selat Solo, Rasanya Autentik
3. Coto Makassar
Kuliner asal Makassar ini sudah dihidangkan sejak abad ke-16.
Pada masa itu Makassar berada di bawah kepemimpinan Kerajaan Gowa.
Coto Makassar selalu menjadi hidangan terutama saat acara adat atau ada tamu istimewa.
Baca Juga: Sarapan Lezat dengan Kuliner Khas Sulawesi Selatan Coto Makassar alias Pallu Coto Mangkasarak
Kuliner ini mendapat pengaruh kuat dari kuliner Tiongkok, di mana dalam resepnya menggunakan tauco.
Artikel Terkait
Bersantap di Pracima Tuin Mangkunegaraan, Kesempatan Menikmati Jamuan Makan Mewah Seperti Keluarga Kerajaan
Asal Usul Kue Serabi Solo, Pancake Jawa yang Sudah Dikenal Sejak Zaman Kerajaan Mataram
Kuliner Khas Mojokerto, Beberapa Dipercaya Sudah Muncul Sejak Zaman Kerajaan Majapahit
Kuliner Demak yang Sudah Ada Sejak Zaman Kerajaan, Salah Satunya Kesukaan Sunan Kalijaga
5 Kuliner Khas Gowa, Sulawesi Selatan, Warisan Kerajaan yang Menjadi Bagian Penting Sejarah Indonesia