Kabar BUMN - Selain nasi uduk, masyarakat Jakarta juga mengenal nasi ulam, yang biasa disajikan untuk sarapan.
Belum banyak yang tahu, nasi ulam ini hasil alkuturasi kuliner dan budaya Tionghoa, India, dan Belanda.
Sejak tahun 2018, nasi ulam sudah ditetapkan pemerintah Jakarta sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang patut dilindungi.
Baca Juga: Faktor Keterbatasan Bahan Baku, Kuliner Betawi Ini Sekarang Semakin Langka
Nasi campur orang Betawi
Dipercaya nasi ulam mendapat pengaruh kuat dari budaya Tionghoa peranakan dan Melayu.
Ini terlihat dari konsep nasi dengan aneka lauk yang mirip dengan nasi lemak khas Melayu.
Tambahan serundeng dan kacang pada nasi, dipercaya mendapat pengaruh dari India.
Baca Juga: 4 Camilan Betawi yang Masih Mudah Ditemukan di Penjual Kaki Lima
Masyarakat Betawi lalu menambahkan daun kemangi dan ebi.
Selain itu, untuk memasak nasi, masyarakat Betawi juga menggunakan daun salam, lengkuas, dan serai.
Sementara tambahan semur dan perkedel menunjukkan pengaruh kuliner Belanda di nasi ulam.
Model basah dan kering
Nasi ulam sendiri ada dua jenis, yaitu basah dan kering.
Artikel Terkait
4 Jenis Sushi yang Awalnya Hanya Disajikan di Jepang dan Perlahan-lahan Mendunia
Seharian Keliling Sekitar Alun-alun Bandung, Sudah Populer Sejak Zaman Belanda
5 Lokasi Menakjubkan untuk Menyaksikan Pesona Matahari Terbit di Yogyakarta
Awek Fishing and Resto, Wisata Asri di Lahan Bekas Tambang yang Terlupakan
Ragam Jenis Sate dari Yogyakarta, Unik dan Sedikit Ekstrem yang Ada di Yogyakarta
Liburan Seru ke Luar Kota, Jangan Ragu Kunjungi Tiga Spot Alam Keren yang Dekat Makassar Ini