Kuliner Tradisional Solo yang Semakin Langka, Masih Mungkin Ditemukan di Pasar Tradisional

Photo Author
Lucy SL, Kabar BUMN
- Minggu, 29 Juni 2025 | 11:30 WIB
Cambuk rambak khas Solo. (Pinterest/widya)
Cambuk rambak khas Solo. (Pinterest/widya)

3. Tahok
Tahok kuliner Solo yang dipengaruh kuliner Tiongkok dan dulu hanya dikonsumsi masyarakat Tionghoa di Pecinan Solo.

Tahok diambil dari kata tahoa yang terdiri atas dua kata; tao atau teu dan hoa atau hu.

Tao atau teu artinya kacang kedelai. Hoa atau hu artinya dihaluskan.

Tahok terbuat dari kedelai yang dihancurkan sampai lembut lalu ditambahkan kuah jahe hangat.

Baca Juga: 4 Tempat Kuliner Terpopuler di Pasar Klewer, Solo, Rata-rata Usianya Sudah Puluhan Tahun

Alih-alih lontong atau ketupat, pecel ini menggunakan gendar. (Instagram/@carikulinersolo)

4. Pecel gendar
Selain Solo, kuliner langka ini juga bisa ditemukan di Salatiga, Boyolali dan Wonogiri.

Pecel gendar berupa pecel biasa dengn tambahan gendar.

Yaitu, olahan nasi bekas yang ditumbuk halus sehingga menjadi bentuk yang padat.

Teksturnya lebih kenyal dan gurih dibandingkan lontong atau ketupat.

Baca Juga: Keliling Pusat Kota Solo dengan Kereta Uap Buatan Tahun 1896, Sepur Kluthuk Jaladara yang Terawat Apik

5. Brambang asem
Brambang asem terbuat dari daun ubi yang direbus, disiram sambal brambang asem.

Biasanya daun ubi yang digunakan bagian pucuk yang masih muda.

Sementara itu, sambal brambang asem terbuat dari cabai merah, cabai rawit, bawang merah, gula merah dan asam jawa.

Brambang asem dinikmati dengan tempe gembus. Salah satu penjual yang terkenal ada di Pasar Gede Solo.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Lucy SL

Tags

Artikel Terkait

Terkini