Kabar BUMN - Dodol dipercaya sudah ada sejak zaman Mataram Kuno atau Kerajaan Medang.
Keberadaan dodol tercatat di Prasasti Alasantan dan Prasasti Sangguran.
Selain di Pulau Jawa, dodol juga menyebar ke wilayah Nusantara, termasuk Pulau Sumatra.
Setiap daerah di Pulau Sumatra punya racikannya tersendiri. Berikut ragamnya.
Baca Juga: Benarkah Kencur Bisa Membantu Menjernihkan Suara? Ini Penjelasannya
1. Alame
Ini dodol hitam dari Mandailing, Sumatra Utara.
Dalam bahasa Mandailing, alame atau ulame artinya santan, bahan baku utama dodol ini.
Selain santan, alame terbuat dari campuran gula merah dan tepung ketan.
Baca Juga: Sea World Ancol, Seru Buat Anak–Anak, Hemat Buat Dompet
Alame memiliki filosofi kebersamaan, karena untuk membuatnya dibutuhkan setidaknya dua orang.
Prosesnya lama dan harus diaduk dua orang agar tidak gosong.
Bila kebanyakan dodol dibungkus plastik atau daun pisang, alame dengan semacam tikar tipis.
2. Meuseukat
Bagi masyarakat Aceh, meuseukat merupakan kue tradisional yang dianggap mewah.
Artikel Terkait
7 Kuliner Khas Garut yang Belum Banyak Orang Tahu, Dodol Garut Hanya Salah Satunya
5 Soto Khas Pulau Sumatra, Kaya Akan Rempah yang Menghangatkan dan Menyehatkan Tubuh
Bukan Hanya Sate Padang, Ini Sate Asal Sumatra yang Khas dengan Rempahnya
5 Kuliner Nasi Khas Sumatra, Paling Terkenal Nasi Kapau, Paling Membingungkan Nasi Kentut
Unik, Rasanya Mirip Padahal Bahan Bakunya Berbeda-Beda, Ini Ragam Dodol Khas Nusantara
Ini Ragam Minuman Tradisional dari Sumatra Barat, Teh Talua Cuma Salah Satunya