Ragam Dodol dari Sumatra, Tidak Hanya Manis, Ada juga yang Pedas

Photo Author
Lucy SL, Kabar BUMN
- Senin, 21 Juli 2025 | 11:30 WIB
Bila kebanyakan dodol dibungkus plastik atau daun pisang, alame dengan semacam tikar tipis. (Instagram/@audrys_kitchen)
Bila kebanyakan dodol dibungkus plastik atau daun pisang, alame dengan semacam tikar tipis. (Instagram/@audrys_kitchen)

Kabar BUMN - Dodol dipercaya sudah ada sejak zaman Mataram Kuno atau Kerajaan Medang.

Keberadaan dodol tercatat di Prasasti Alasantan dan Prasasti Sangguran.

Selain di Pulau Jawa, dodol juga menyebar ke wilayah Nusantara, termasuk Pulau Sumatra.

Setiap daerah di Pulau Sumatra punya racikannya tersendiri. Berikut ragamnya.

Baca Juga: Benarkah Kencur Bisa Membantu Menjernihkan Suara? Ini Penjelasannya

1. Alame
Ini dodol hitam dari Mandailing, Sumatra Utara.

Dalam bahasa Mandailing, alame atau ulame artinya santan, bahan baku utama dodol ini.

Selain santan, alame terbuat dari campuran gula merah dan tepung ketan.

Baca Juga: Sea World Ancol, Seru Buat Anak–Anak, Hemat Buat Dompet

Alame memiliki filosofi kebersamaan, karena untuk membuatnya dibutuhkan setidaknya dua orang.

Prosesnya lama dan harus diaduk dua orang agar tidak gosong.

Bila kebanyakan dodol dibungkus plastik atau daun pisang, alame dengan semacam tikar tipis.

Baca Juga: Jogja Kite International Festival 2025 Segera Digelar, Langit Parangkusumo Akan Dipenuhi Warna-warni Layangan

Bahan utama meuseukat adalah buah nanas dicampur air jeruk. Serta tepung terigu, mentega, dan air. (Wikipedia/Si Gam)

2. Meuseukat
Bagi masyarakat Aceh, meuseukat merupakan kue tradisional yang dianggap mewah.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Lucy SL

Tags

Artikel Terkait

Terkini