Empat di antaranya saka guru (tiang utama) setinggi 7-8 meter.
Baca Juga: 7 Tips Mengatasi Rasa Kantuk Berlebihan Saat Puasa Ramadan agar Tetap Produktif
Sedangkan 12 tiang lain, tingginya hanya 2,5 meter.
Susunan tiang penyangganya berbentuk bilik dan setiap bilik ini diberi nama khusus.
Masjid ini sudah mengalami renovasi beberapa kali namun bentuk aslinya masih terjaga.
Saat ini Masjid Jami Baitul Muttaqin menjadi cagar budaya yang dilindungi.
Baca Juga: Ide Hampers Lebaran untuk Sahabat dan Keluarga yang Berkesan dan Bermanfaat
Kentongan tua
Selain bangunan masjid yang sudah berumur lebih dari 400 tahun, terdapat juga benda antik.
Yaitu bedug dan lesung. Umur keduanya nyaris setua umur masjid.
Zaman dulu bedug dan kentongan ini utamanya digunakan untuk penanda azan.
Baca Juga: 5 Jam di Udara untuk Pertama Kali? Ini Cara Menikmati Penerbangan Tanpa Panik
Selain itu juga untuk memanggil warga setempat atau penanda pengumuman penting.
Sampai sekarang bedug dan kentonan masih sering digunakan.
Di samping masjid terdapat lahan yang dijadikan tempat pemakaman tetua dan pemuka agama.
Artikel Terkait
Masjid Tertua di Jakarta, Umurnya Sudah Lebih dari 250 Tahun
Masjid Tjia Kang Ho, Didirikan Keturunan Tionghoa dan Bangunannya Sering Dikira Klenteng
Serasa di Turki dan India, Ini Deretan Masjid Unik di Indonesia
Menyambut 10 Malam Terakhir Ramadan: Ini 5 Masjid di Jakarta yang Nyaman untuk Iktikaf
3 Masjid Tertua di Palembang, Perjalanan Panjang Tempat Ibadah Berusia Beratus-ratus Tahun
Masjid Tuo Kayu Jao, Masjid Tertua di Sumatra yang Dibangun Sekitar Abad ke-17