Kabar BUMN - Bagian dari budaya Islam di Indonesia, zaman dulu hampir semua masjid memiliki bedug.
Bedug ditalukan untuk mengawali azan, di hari-hari besar seperti Idul Fitri dan Idul Adha, juga kemerdekaan.
Bedug sendiri sebenarnya sudah ada jauh sebelum agama Islam masuk ke Indonesia.
Keberadaan alat musik ini di masjid-masjid tidak lepas dari pengaruh Laksamana Cheng Ho dari Tiongkok.
Baca Juga: Daftar Menu Buka Puasa yang Wajib Dihindari Penderita Asam Lambung
Sejak zaman prasejarah
Keberadaan bedug diperkirakan sejak zaman prasejarah, tepatnya zaman logam sekitar 2.500 tahun lalu.
Masa itu orang sudah mengenal sejumlah peralatan dari perunggu, seperti nekara dan moko (gendang perunggu).
Moko ini diperkirakan yang menjadi cikal bakal dari gendang.
Baca Juga: Selikuran, Tradisi Jawa dalam Menyambut Malam Lailatul Qadar
Di masa tersebut, moko digunakan untuk acara keagamaan, memanggil hujan, atau mas kawin.
Sisa-sisa nekara bisa ditemukan di daerah Sumatra, Jawa, Bali, dan Sumbawa.
Penyebaran bedug sangat dipengaruhi budaya Hindu Jawa dan sempat juga tertulis di Kidung Malat.
Disebut di situ kalau bedug berfungsi untuk alat memanggil penduduk dari berbagai daerah.
Baca Juga: Rekomendasi 6 Menu Buka Puasa yang Aman untuk Penderita Asam Lambung
Menyebar di masa Laksamana Cheng Ho
Penggunaan bedug di masjid sedikit banyak dipengaruhi Laksanama Cheng Ho.
Artikel Terkait
4 Masjid Indonesia di Amerika Serikat, Dibangun untuk Kebutuhan Ibadah WNI
Masjid Tertua di Jakarta, Umurnya Sudah Lebih dari 250 Tahun
Masjid Tjia Kang Ho, Didirikan Keturunan Tionghoa dan Bangunannya Sering Dikira Klenteng
Serasa di Turki dan India, Ini Deretan Masjid Unik di Indonesia
3 Masjid Tertua di Palembang, Perjalanan Panjang Tempat Ibadah Berusia Beratus-ratus Tahun
Masjid Tuo Kayu Jao, Masjid Tertua di Sumatra yang Dibangun Sekitar Abad ke-17