ragam

Sejarah dan Fakta Unik Roti Buaya, Kuliner Khas Betawi yang Jadi Antaran di Pesta Pernikahan

Senin, 17 Juni 2024 | 08:30 WIB
Roti buaya khas Betawi. (kampung kaleng.com)

Lantas, kenapa harus dibuat menjadi roti? Pembuatan roti tidak lepas pengaruh orang Eropa juga.

Baca Juga: Meskipun Sudah Agak Membaur, Perkampungan-perkampungan Betawi Ini Masih Bertahan Sampai Sekarang

Awalnya hanya jadi pajangan
Sekitar awal akhir abad 18 mulai ada bakeri atau toko roti di Batavia.

Kala itu roti hanya jadi panganan orang Belanda atau yang mampu saja.

Bila pernikahan orang Eropa selalu membawa bunga, orang Betawi mencari simbol lain yang berbeda.

Baca Juga: 5 Tempat Nasi Uduk Khas Betawi yang Legendaris di Jakarta, Awas Ketagihan

Ukuran roti buaya rata-rata sekitar 50 sentimeter. Namun, ada yang lebih besar juga.

Pada zaman dulu tekstur roti buaya cenderung lebih keras dari roti pada umumnya.

Ini karena kala itu, setelah resepsi pernikahan, roti buaya tidak dimakan, tetapi disimpan.

Baca Juga: 5 Minuman Khas Betawi, Mulai Dari yang Segar Hingga yang Menghangatkan

Sehingga butuh roti yang teksturnya keras agar tidak mudah rusak dan basi.

Di abad 20 tradisi ini diprotes. Roti yang sudah dibuat dianggap mubasir kalau tidak dimakan.

Akhirnya, terjadi perubahan tradisi. Setelah ijab kabul roti dipotong dan dibagi-bagikan ke semua orang.

Baca Juga: Makanan Khas Betawi, Makin Mudah Dicari Saat HUT Jakarta

Saat ini roti buaya teksturnya sudah lebih lembut dari model dulu. Jenisnya pun sekarang beragam.

Halaman:

Tags

Terkini