ragam

Benteng-benteng Ini Saksi Bisu Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Jumat, 15 Agustus 2025 | 07:00 WIB
Benteng Duurstede, Saparua, Maluku Tengah, tampak dari atas. Benteng ini menjadi saksi pertempuran Belanda dengan masyarakat Maluku yang dipimpin Kapitan Pattimura. (dispar.malukuprov.go.id)

Benteng Kedung Cowek didirikan pada zaman kolonial Belanda tahun 1900.

Ini benteng terbesar yang dibangun sepanjang pantai Surabaya dan Gresik. Luasnya 71.876 meter persegi.

Baca Juga: Curug Ngebul, Air Terjun “Berasap” di Cianjur yang Bikin Penasaran

Di zaman dulu, ini menjadi benteng pertahanan Belanda, tempat penyimpanan peluru dan meriam.

Setelah Jepang menyerah pada sekutu, benteng menjadi basis pertahanan TKR dan Pasukan Sriwidjaja.

Dalam Pertempuran 10 November 1945 benteng sempat diserang pasukan sekutu tapi berhasil dipertahankan.

Baca Juga: Satu Jam di Atas Rel, Kereta Wisata Heritage Ambarawa Kini Lebih Hemat di Bulan Kemerdekaan

Bagian dalam Benteng Van Der Capellen, Sumatra Barat. (Wikipedia/Adhmi )

3. Benteng Van Der Capellen
Benteng di Sumatra Barat ini menjadi saksi Perang Padri yang dipimpin Tuanku Imam Bonjol (1803-1838).

Lokasinya di Jorong Kampung Baru, Nagari Baringin, Kecamatan Lima Kaum, Tanah Datar, Sumatra Barat.

Sebelum benteng didirikan, terjadi konflik antara kaum adat dan kaum padri.

Baca Juga: Pantai Santolo, Wisata Alam yang Jadi Saksi Bisu Sejarah Masa Kolonial di Garut

Kaum adat yang kalah meminta bantuan Belanda dengan imbalan beberapa wilayah di Sumatra Barat.

Untuk keperluan perang, Belanda memperkuat pertahanan dengan membangun Benteng Van Der Capellen.

Benteng didirikan tahun 1822-1824.

Namanya diambil dari nama Gubernur Jenderal Belanda, Godert Alexander Gerard Philip, Baron van der Capellen.

Baca Juga: Rangkaian 15 Ucapan Selamat HUT ke-80 RI yang Cocok untuk Semua Kalangan

Halaman:

Tags

Terkini