ragam

4 Upacara Adat Masyarakat Jawa yang Masih Dijalankan Secara Turun-menurun Karena Faktor Budaya dan Tradisi

Minggu, 31 Agustus 2025 | 08:20 WIB
Upacara adat larung sesaji biasa dilakukan masyarakat pesisir pada bulan Suro atau Syawal atau momen penting. (kkp.go.id)

Kabar BUMN - Masyarakat Jawa masih menjalankan sejumlah upacara adat yang dianut secara turun temurun.

Sebagian besar upacara adat ini berakar dari tradisi Hindu dan Buddha, lalu diadopsi ke budaya dan tradisi Jawa.

Karena keunikan dan filosofinya, sejumlah upacara adat ini menjadi atraksi budaya yang ditunggu-tunggu.

Baca Juga: Bertenda di Tepi Danau Buyan, Alternatif Wisata Selain Pantai di Bali

1. Nyadran
Tradisi ini sering dilakukan di bulan Ramadan.

Upacara ini sebenarnya berakar dari tradisi Hindu-Buddha yang dinamakan shraddha.

Artinya upacara penghomatan pada leluhur.

Pada masa penyebaran agama Islam di Jawa oleh Wali Songo, tradisi ini diadaptasi.

Baca Juga: Masih Sepi Pengunjung, Hidden Gem Bali Ini Juga Gratis Tiket Masuk

Para wali memasukkan nilai Islam seperti membaca Al-Quran, tahlilan, dan doa saat Nyadran.

Tradisi ini meliputi acara mendoakan arwah, membersihkan makam, dan makan bersama seluruh kerabat.

Biasanya nyadran dilakukan beberapa hari sebelum bulan Ramadan.

Baca Juga: Bogor Rasa Ubud, Terasering Cisalada Jadi Spot Foto-foto Hits dengan Latar Persawahan Memukau

2. Larung sesaji
Tradisi larung sesaji biasanya dilakukan masyarakat di daerah pesisir pantai.

Halaman:

Tags

Terkini