Tidak ada sawah yang diubah jadi kafe, tidak ada ladang yang disulap jadi spot foto instan.
Baca Juga: Anak-anak Merapat! Bisa Masuk Gratis ke Solo Safari, Maksimal Hari Ini
Justru aktivitas itulah yang nantinya bisa dirasakan pengunjung, ikut ke kebun, belajar bertani, atau sekadar berjalan menyusuri kampung lembah yang tenang.
Wotawati juga menyimpan cerita lama. Konon, kampung ini bermula dari dua pelarian Majapahit ratusan tahun silam.
Nama Wotawati sendiri dipercaya berasal dari “wot”, jembatan bambu sederhana yang dulu dipakai menyeberangi sungai kecil di lembah tersebut.
Baca Juga: Holding BUMN Danareksa Membuka Lowongan Magang untuk Mahasiswa dan Lulusan Baru Jurusan S1 Ekonomi
Di sini, pengunjung bisa menginap di rumah warga, menikmati pagi yang sunyi, dan merasakan sensasi menunggu matahari yang datang paling akhir.
Di tengah Gunungkidul yang identik dengan panas dan lahan terbuka, Wotawati hadir sebagai pengecualian.
Sebuah kampung di dasar lembah, tempat waktu terasa lebih pelan, dan pagi tidak pernah terburu-buru.***