Kampung Loloan
Berada sekitar 90 kilometer dari Denpasar, ini merupakan kampung muslim terbesar di Bali.
Berdirinya tahun 1669 bersamaan dengan datangnya prajurit dari Bugis ke Bali.
Konon prajurit pertama kali datang ke sini berusaha lari dari kejaran pasukan VOC Belanda.
Baca Juga: Tips Jogging Saat Berpuasa Agar Puasa Lancar dan Sehatnya juga Maksimal
Para prajurit bisa tinggal di sana dengan syarat menjadi pasukan terdepan bila terjadi serangan.
Mereka juga diminta membantu menjual hasil bumi di Jembrana ke luar pulau.
Karena sebagian besar warga keturunan Bugis, bahasa Bugis dan Melayu masih tetap digunakan di kampung Loloan.
Baca Juga: Buah-buahan Segar dan Menyehatkan yang Terbaik untuk Buka Puasa
Kampung Pagayaman
Mirip dengan Kampung Loloan, warga Kampung Pegayaman juga aslinya dari Bugis.
Terjadi sebuah alkuturasi budaya yang indah di Kampung Pagayaman, Buleleng.
Warga masih mempertahankan adat Bugis sekaligus mengadapasi budaya Bali.
Baca Juga: Tak Perlu Pergi Jauh, Ini 5 Wisata Alam Terbaik di Sekitaran Jakarta
Namanya perpaduan nama Islam dan Bali. Misal, Ketut Abdul Karim atau Nyoman Abdurrahman.
Penduduknya hidup dari bertani dan mempergunakan sistem pengairan sawah tradisional Bali, subak.
Lembaga kemasyarakatannya juga berkonsep banjar, seperti perkampungan Bali pada umumnya.