Konon ketika pertama datang ke Pulau Jawa, ia disambut dengan baik oleh penguasa di Semarang.
Saat hendak berlayar lagi, Laksamana Cheng Ho mau memberi hadiah.
Baca Juga: 4 Kudapan Kekinian di Jakarta yang Masih Sulit Ditemukan di Daerah Lain, Bisa Dijadikan Oleh-oleh
Namun sang raja bilang, ia hanya ingin mendengar suara bedug di semua masjid.
Sebagai laksamana beragama Islam, Cheng Ho memenuhi permintaan tersebut.
Laksamana Cheng Ho juga yang memperkenalkan bedug di Jawa.
Ia menggunakan bedug sebagai panduan baris-berbaris tentara yang mengiringinya.
Baca Juga: 7 Tips Mengatasi Rasa Kantuk Berlebihan Saat Puasa Ramadan agar Tetap Produktif
Penyebaran bedug yang semakin luas terjadi pada masa Wali Songo sekitar abad ke 15.
Mereka menggunakan bedug untuk penanda salat lima waktu dan memanggil warga setempat datang ke masjid.
Mulai sejak itulah penggunaan bedug semakin popular dan tidak bisa dilepaskan dari masjid.
Baca Juga: Wisata Nimo Eye Pangalengan Gelar Promo Eid Fun Fest, Tiket Gratis Menanti
Terbuat dari kulit kambing
Pada zaman dulu bedug dibuat dari bahan berkualitas nomor satu.
Rangkanya dari kayu jati dan kulit pelapisanya dari kulit hewan nomor satu.