Lebih dari itu, anak-anak kembali mengenal bentuk fisik tanaman obat yang sebelumnya hanya mereka dengar dari cerita orang tua dan kakek-nenek.
"Dulu lahan ini hanya tanah kosong yang kami lewati setiap hari, sekarang setiap tunas yang tumbuh di sini seperti mengingatkan bahwa kami juga bisa tumbuh dan berubah bersama," ujar Murni penuh haru.
Baca Juga: PPDI IPC TPK Gandeng LAZISKU, Salurkan Zakat Karyawan Secara Profesional dan Tepat Sasaran
Manager Community Involvement & Development (CID) PHR, Iwan Ridwan Faizal, mengaku terharu menyaksikan ketangguhan para ibu di Bumi Hijau.
Menurutnya, keberdayaan Murni dan rekan-rekannya mencerminkan esensi pemberdayaan yang paling hakiki: kemandirian dalam pola pikir.
"Menyaksikan perjuangan Ibu Murni dan kawan-kawan adalah pelajaran tentang ketangguhan.
Baca Juga: Resmi Dibuka Hari Ini! Mudik Gratis InJourney Airports 2026, Cek Rute dan Cara Daftarnya
"Mereka membuktikan bahwa dari sepetak lahan jahe dan kunyit, kita bisa menjaga kesehatan keluarga sekaligus melestarikan warisan leluhur," ungkap Iwan.
Peringatan World Wildlife Day menjadi pengingat bahwa pelestarian flora liar dan tanaman obat sejatinya adalah upaya menjaga napas kehidupan manusia.
Di Bumi Hijau, langkah itu telah dimulai oleh Murni dan para perempuan tangguh di lingkungannya.
Di tangan mereka, sebatang tanaman obat bukan sekadar komoditas, melainkan warisan, harga diri, dan harapan yang terus bertunas.***
Artikel Terkait
Inovasi Teknologi PHR Dinilai Strategis Jaga Ketahanan Energi Nasional
Dari Krisis ke Presisi: Strategi PHR Menjaga Energi dan Produksi di Blok Rokan
Dari Produksi ke Pemulihan: Komitmen PHR Mengelola Lingkungan di WK Rokan
PHR Zona 1 Borong Lima Penghargaan di PRIA Awards 2026 Berkat Strategi Komunikasi Terintegrasi
Empat Inovasi PHR Borong Apresiasi di RKMP 2026, Perkuat Ketahanan Energi Nasional