Kabar BUMN - Lebih tua dari usia kemerdekaan Indonesia, warga Desa Rejosari telah 100 tahun menjadi perajin bambu.
Keahlian warga di desa di kecamatan Karangtengah, Demak, Jawa Tengah, ini berlangsung turun-temurun.
Setidaknya sekarang ada sekitar 150 warga yang menggantungkan hidupnya dari keahlian menganyam bambu.
Baca Juga: 5 Gejala Kolesterol Tinggi yang Wajib Diwaspadai, Sering Terjadi Usai Makan Daging Kurban
Sebagian besar “full-time” menjadi perajin bambu, sebagian lain menyambi dengan bertani dan lain-lain.
Beberapa perajin juga sudah ada yang tergolong lansia.
Mereka membuat kerajinan bambu di rumah masing-masing secara turun menurun.
Baca Juga: Kekayaan Kuliner Malaysia yang Berbahan Gula Aren, Kombinasi Rasa Gurih dan Manis
Beragam produk
Industri kerajinan bambu di Desa Rejosari mendapat dukungan penuh dari perangkat desa.
Seperti strategi penjualan, inovasi produk, dan penyediaan bahan baku bambu yang dibeli dari luar Demak.
Adapun bambu yang digunakan dari jenis bambu pring apus.
Biasanya para perajin akan mengambil bahan baku dan membayarnya bila hasil anyaman laku.
Baca Juga: Rekomendasi Resep Daging Kambing Kurban Tanpa Santan, Tetap Lezat dan Lebih Sehat
Produk yang dibuat sangat beragam, sesuai dengan permintaan pasar.
Artikel Terkait
Sepeda Bambu Asal Temanggung yang Go Internasional
Wanita Ini Sukses Bangun Usaha Kerupuk Daun Bambu
Kuliner Indonesia yang Dimasak dalam Batang Bambu, Tradisi Memasak Warisan Nenek Moyang
BRI Berdayakan Purna Pekerja Migran Indonesia di Lombok Lewat Pelatihan Kerajinan Bambu
Ragam Kuliner dari Bambu Muda Khas Asia, Ketika Bambu Dimanfaatkan Sedari Muda