ragam

Ragam Bubur Tradisional Jawa, Beberapa Terkait dengan Peristiwa Sosial, Budaya, dan Keagamaan

Selasa, 10 Desember 2024 | 11:30 WIB
Bubur suro menjadi perlambang ucapan syukur masyarakat Jawa atas berkah dari Yang Maha Kuasa. (Instagram/@dapoer_bigle)

Bubur candil terbuat dari tepung ketan yang dibentuk menjadi bulatan-bulatan kecil.

Setelah itu candil dicampur dengan santan dan gula merah yang kental. Rasanya manis dan gurih.

Bubur candil sangat mudah ditemukan di pasar tradisional, terutama di Yogyakarta dan Solo.

Baca Juga: 5 Jenis Soto Khas Jawa Tengah yang Kurang Dikenal Luas Tapi Tidak Kurang-kurang Jumlah Peminatnya

Bubur lemu jadi perlambang makanan yang tidak mengkotak-kotakan status sosial karena bisa dimakan siapa saja. (Google Maps/Kumiayu via hartonotradecenter.com)

3. Bubur Lemu
Bubur dengan cita rasa gurih ini berasal dari Solo.

Bubur lemu jadi perlambang makanan yang tidak mengkotak-kotakan status sosial karena bisa dimakan siapa saja.

Bubur terbuat dari campuran beras, santan dan beragam bumbu rempah.

Setelah itu, disiram sayuran berkuah santan, seperti opor ayam atau pindang telur.

Baca Juga: Rekomendasi 5 Desa Wisata Terbaik di Jawa Tengah yang Masuk 75 Besar ADWI 2023

4. Bubur sumsum
Bubur manis lainnya yang juga mudah ditemukan di pasar tradisional di Jawa Tengah adalah bubur sumsum.

Bubur sumsum terbuat dari tepung beras yang dimasak dengan santan, garam, dan daun pandan.

Bubur sumsum memiliki dua warna yaitu warna putih dan warna merah.

Warna merah didapat dengan cara mencampurkannya dengan gula merah cair.

Baca Juga: Rekomendasi Rest Area Instagramable di Jalan Tol Trans Jawa, Ada yang Bergaya Vintage hingga Arsitektur Eropa

5. Bubur lodeh
Bila sayur lodeh dinikmati dengan nasi panas, maka bubur lodeh kombinasi bubur dengan sayur lodeh.

Hidangan khas Bantul dan Kendal ini banyak dijual di bulan Ramadan sebagai hidangan berbuka puasa.

Bubur diciptakan di masa penjajahan Jepang, saat masyarakat harus membuat bubur untuk pengganti nasi.

Halaman:

Tags

Terkini