5 Bubur Gurih di Pulau Jawa, Juga Simbol dan Makna Dibaliknya

Photo Author
Lucy SL, Kabar BUMN
- Kamis, 18 September 2025 | 10:00 WIB
Bubur suro menjadi perlambang ucapan syukur masyarakat Jawa atas berkah dari Yang Maha Kuasa. (Instagram/@dapoer_bigle)
Bubur suro menjadi perlambang ucapan syukur masyarakat Jawa atas berkah dari Yang Maha Kuasa. (Instagram/@dapoer_bigle)

Baca Juga: Restoran Tua di Singapura yang Usianya Lebih Tua dari Negara-Kota Tersebut

3. Bubur lodeh
Menu ini sudah ada sejak zaman Panembahan Bodho, murid Sunan Kalijaga.

Pertama kali dibuat di Masjid Kauman, Bantul, sekitar abad 16.

Bubur lodeh terbuat dari bubur yang dimasak dengan santan. Saat disajikan disiram sayur lodeh.

Bubur yang menjadi simbol kebersamaan ini sampai sekarang jadi menu berbuka di Masjid Kauman.

Baca Juga: Ranu Ronggojalu, Danau yang Konon ‘Dicetak’ Dua Bocah dalam Sekejap di Tengah Desa

Bubur lemu jadi perlambang makanan yang tidak mengkotak-kotakan status sosial karena bisa dimakan siapa saja. (Google Maps/Kumiayu via hartonotradecenter.com)

4. Bubur lemu
Bubur ini mudah ditemukan di Solo dan Yogyakarta.

Bubur dibuat dari beras yang dimasak dengan santan. Teksturnya lembut menyerupai bubur sumsum.

Bubur disajikan dengan lauk sambal goreng kecek, opor ayam, telur, dan tempe kering.

Baca Juga: Sunyinya Pantai Cemongkak, Bali, Sering Luput dari Perhatian Karena “Menutup Diri”

Ada sedikit perbedaan cara penyajian antara bubur lemu Solo dan Yogyakarta.

Di Solo bubur dihidangkan dengan opor ayam atau telur.

Di Yogyakarta, bubur dilengkapi telur, tumis tempe pedas, dan tahu santan kuning. Kadang tambah gudeg.

Baca Juga: 4 Pemandian Air Panas di Sukabumi, Sumber Airnya Alami Kaya Akan Manfaat

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Lucy SL

Tags

Artikel Terkait

Terkini